Contoh Naskah atau Teks Drama Domba-Domba Revolusi

Kumpulan contoh-contoh teks drama dan contoh naskah drama dalam versi
bahasa indonesia dengan judul drama : Domba-Domba Revolui.
Ingin tahu bagaimana dengan isi drama domba-domba revolusi
ikuti dan cermati baca drama berikut dengan teliti. !

Domba-Domba Revolusi
(B. Soelarto)
(Setelah lampu dinyalakan kembali, tampak lelaki bersikap seperti tadi,
yakni berlutut dengan kedua belah tangannya seolah-olah memegang
sesuatu, tapi perempuan tua itu sudah tak ada lagi. Secepat kilat tubuhnya
seakan tersengat oleh tenaga listrik, lalu diraihnya tangannya ke dada dan
berdiri dengan perlahan. Kepala menunduk. Sementara itu, masuk bilik
seorang perempuan muda. Dihampirinya lelaki yang masih menelungkupi
dan tidak melihatnya, lalu meletakkan tangannya di atas pundaknya)
Perempuan : “Mas! Mas!”
Lelaki : (Terkejut bangun memandang kepala yang baru datang itu
dengan mata yang berkunag-kunang). “ Kau...kau ?”
Perempuan : “Ya, mas....”
Lelaki : (heran) “ Kau ? ...benar-benar Kau istriku?”
Perempuan : (mengangguk) “Ya, Mas ..”
Lelaki : “Bukan hantu?”

                       Hasil gambar untuk domba domba revolusi

Perempuan : “Hantu....?”
Lelaki : (bangkit memegang bahu perempuan itu dan melepaskannya
lagi) “Tidak, tidak, kau bukan hantu. Cuma aku, aku saja!”
Perempuan : “Apa maksudmu ..?”
Lelaki : (tertawa kecil). “Tidak apa-apa Dik...”
Perempuan : “Kau tidak senang melihat aku ...?”
Lelaki : “Bukan begitu,...Aku senang kau datang kemari. Mana
tempatmu?”
Perempuan : “Tempatku jauh. . . .”
Lelaki : “Jauh. . . ? di....disana ?” (menuding ke atas). “Berapa kali bumi
ini jauhnya?”
Perempuan : (Tercengang) “Mas, omongmu tidak karuan!”
Lelaki : “Di Neraka atau di Surga?”
Perempuan : (marah) “Rupanya kau sudah menjadi gila! Neraka atau surga
katamu? di surga tak mungkin. Sebab kaulah yang
menghalang-halangi aku untuk pergi ke situ kelak. Kaulah
yang menyeret aku ke neraka.”
Lelaki : “Benar-benar, Dik.” (berjalan ke arah kursi, duduk, matanya
nanar memandang ke satu jurusan).
Perempuan : “Bukankah salahmu melulu bahwa penghidupan kita ibarat
neraka ? sehingga aku lari dari padamu, setahun yang lalu?”
Lelaki : (bertopang dagu, lemah) “Ya...ya..Dik. Maaf, maafkanlah.”
Perempuan : (lunak kembali) “Mas, bukan maksudku untuk membalas
dendam.”
Lelaki : (mengangguk) “Kutahu Dik, aku tahu hatimu baik. Semua
ini memang salahku. Penderitaan orang tuaku. Sengsaramu.
Semua aku yang menyebabkannya. Aku penjudi, peminum,
penjahat, duh. Cinta kasih orang tua dan cinta kasihmu,
betapa aku membalasnya? Harta benda orang tuaku habis
lenyap karena aku. Habis dengan judi dan minum. Kusakiti
hati ayahku, kusedihkan ibuku. Dan kau Dik, (memandang
perempuan muda itu) ...Kau selalu bekerja keras, aku yang
menghabiskan uangmu....”



Bahasa Indonesia Kelas XI SMA/MA Program IPA dan IPS
Previous
Next Post »