kompas tentang mata uang di indonesia

    Pernahkah anda berada dalam situasi dimana ada seseorang atau beberapa orang mengancam anda dengan menggunakan senjata tajam atau senjata api dan meminta anda untuk menyerahkan uang tunai atau barang-barang berharga yang anda miliki? Atau situasi dimana tanpa disadari, 



anda sudah kehilangan dompet saat berada di angkutan umum atau di tempat umum yang sedang sangat ramai dikunjungi. Yang sangat menyakitkan adalah saat anda berada dalam kedua situasi di atas, saat itu, anda sedang memiliki uang tunai dalam jumlah yang lumayan banyak dari biasanya.  Kalau orang medan bilang “alamak, sial kali lah aku“. Saya yakin, bila dilakukan survey wawancara terhadap pelaku begal, perampokan, copet, atau apapun istilah lainnya yang menggambarkan tindakan kejahatan untuk mengambil barang yang bukan haknya atau bahkan koruptor sekalipun, mereka pasti setuju apabila uang tunai atau cash adalah hal yang mereka sukai dan menjadi pilihan utama untuk diambil. Apabila dalam bentuk angka, 99,99 % dari pelaku pasti akan memilih uang tunai karena lebih gampang digunakan dan resiko terlacak lebih sedikit dan hanya 0,01% yang memilih hal lainnya. Untuk yang memilih 0,01% itupun memilih lari karena yang hendak di rampok ternyata adalah mertua sendiri.    Perampok yang mengancam akan mengajukan keluhan resmi karena bank yang mau dirampoknya tidak memiliki dana tunai Hal di atas diamini oleh Joseph Goetz, seorang lelaki berusia 48 tahun, mantan petugas polisi di daerah Maryland, Amerika Serikat.     Pada tanggal 13 November 2008, ia mencoba untuk merampok sebuah kantor cabang Bank Susquehanna yang terletak di kota Springettsbury Township, Amerika Serikat. Pada pukul 9:10, dia masuk dan mencoba untuk merampok bank tersebut. Kantor bank tersebut memiliki tiga teller. Saat berada di teller pertama,teller tersebut langsung pingsan kerena ketakutan. Saat berada di teller kedua dan ketiga, kedua teller tersebut tidak memberikan uang kepadanya karena, menurut polisi yang menangani kasus ini, keduanya memiliki laci kas kosong karena bank baru saja dibuka untuk hari itu. Sebelum keluar dengan tangan hampa Joseph Goetz mengancam untuk mengajukan surat keluhan resmi karena mengetahui bahwa Bank Susquehanna di Springettsbury Township yang ingin dirampoknya tersebut tidak memiliki dana tunai. Dia melarikan diri sambil berteriak bahwa dia akan melaporkan ketidakadaan dana tunai di bank tersebut dalam sebuah keluhan resmi kepada pihak berwenang. Seorang nasabah bank yang baru saja menggunakan layanan Drive-Thru di bank tersebut kemudian mengikuti mobil Goetz serta melaporkannya ke polisi. Akhirnya, perampok tersebut berhasil tertangkap setelah sebelumnya dalam rekam jejak polisi, dia telah berhasil merampok uang tunai di 6 bank berbeda di waktu dan tempat yang berbeda. sumber: www.yorkdispatch.com/ci_13626348 dan www.upi.com/Odd_News/2008/11/14/Holdup_suspect_complained_bank_had_no_cash/UPI-80071226685394/   Uang Tunai itu Mahal Alat pembayaran tunai di Indonesia, uang kartal (logam dan kertas) masih memainkan peran penting khususnya untuk transaksi bernilai kecil. Dalam masyarakat modren seperti sekarang ini, pemakaian alat pembayaran tunai seperti uang kartal memang cenderung lebih kecil dibanding uang giral.   Peredaran Uang tunai dan biaya yang ditimbulkan Uang Beredar dapat didefinisikan dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2). M1 meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi Rupiah), sedangkan M2 meliputi total keseluruhan M1, uang kuasi, dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun. Uang Kuasi merupakan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdiri dari Simpanan Berjangka dan Tabungan (rupiah dan valas) serta Simpanan Giro Valuta Asing . DPK merupakan simpanan pihak ketiga pada Bank Umum dan BPR, yang terdiri dari Giro, Tabungan dan Simpanan Berjangka dalam Rupiah dan Valas.   sumber : Bank Indonesia Salah satu unsur uang yang beredar sempit (M1) adalah uang kartal. Keberadaan uang kertas dan uang logam yang disebut dengan uang kartal tersebut masih sangat memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Uang kartal masih merupakan alat pembayaran yang efisien khususnya untuk transaksi yang bersifat retail dan bernilai nominal relatif kecil. Uang kartal di Indonesia dikenal dengan sebutan Rupiah. Bank Indonesia senantiasa memantau dan menghitung jumlah uang Rupiah yang berada di masyarakat dan perbankan atau dikenal dengan istilah jumlah uang kartal yang beredar. Dari sisi moneter, pemantauan tersebut ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas perekonomian, sedangkan secara fisik pemantauan dilakukan untuk menjaga kecukupan uang Rupiah sesuai dengan kebutuhan transaksi masyarakat. Jumlah uang kartal yang diedarkan merupakan hasil perhitungan uang kertas dan uang logam yang dicetak dikurangi dengan jumlah persediaan uang yang berada di Bank Indonesia, uang yang dicabut dan ditarik dari peredaran, serta uang yang digunakan untuk penelitian BI. Uang kartal yang diedarkan tersebut meliputi uang yang berada di masyarakat dan di khasanah perbankan. Berikut ditampilkan jumlah uang kartal yang beredar hingga bulan April 2015 INDIKATOR PENGEDARAN UANG / INDICATORS OF CURRENCY IN CIRCULLATION Uang Kartal yang Diedarkan / Currency in Circulation dalam Rp. Triliun / in Billion IDR   Sumber : Bank Indonesia (diolah)   Berapa biaya yang diperlukan untuk mencetak uang setiap tahunnya ? Bank Indonesia (BI) mengaku, untuk mencetak uang kartal dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Eko Yulianto, untuk mencetak uang sebanyak 8,3 miliar lembar dibutuhkan biaya sekitar Rp 3,5 triliun. Sedangkan jumlah biaya tersebut yang mencapai Rp 3,5 triliun, sudah termasuk biaya distribusi uang dan biaya cetak uang. “Biayanya itu besar sampai Rp3,5 triliun termasuk distribusinya. Tapi BI tidak pernah ada biaya apa-apa jika masyarakat ingin menukar uang. Rp 3,5T itu untuk cetak sekitar 7,9 sampai 8,3 miliar lembar uang,” ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2015. Sementara untuk mencetak uang dari segi nominal pecahannya, lanjut Eko, biayanya berbeda-beda. Dia menjelaskan, biaya paling mahal untuk mencetak uang yakni pecahan Rp100 ribu. Jumlah biaya itu untuk cetak uang pecahan 100 ribu kurang dari Rp 100 ribu, lebih murah,” tukas Eko sumber : www.infobanknews.com/2015/02/wow-cetak-uang-kartal-dibutuhkan-biaya-rp35-triliun/  Dari data indikator pengedaran uang di atas, bila diambil data di bulan April 2015, maka apabila diolah diperoleh data sebagai berikut : Bila 14,3 milar lembar uang tunai di atas dikalkulasikan dengan biaya pembuatan uang sebanyak Rp. 3,5 triliun untuk 8,3 miliar lembar maka diperoleh biaya kurang lebih sebesar Rp. 6 triliun atau biaya ini lebih besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Bandung tahun 2014 yaitu sebesar Rp.5,2 triliun. 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/edyprimsa/uang-digital-anti-begal_557ab1728d7e61ba525def72
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment